Meskipun sistem grounding terlihat sederhana, kesalahan kecil dalam proses instalasinya dapat berdampak besar pada keamanan, efisiensi, dan umur sistem listrik.
Kesalahan instalasi sering menjadi penyebab utama meningkatnya nilai tahanan tanah, rusaknya peralatan elektronik, hingga terjadinya sengatan listrik berbahaya.
Celebesteknik.com sering menemukan berbagai kasus di lapangan di mana sistem grounding tidak bekerja optimal karena pemasangan yang tidak sesuai standar SNI, IEEE, maupun NEC.
Berikut penjelasan tentang kesalahan umum yang sering terjadi dan bagaimana cara menghindarinya.
Kesalahan Umum dalam Instalasi Sistem Grounding
A. Tidak Melakukan Pengujian Resistivitas Tanah Sebelum Instalasi
Salah satu kesalahan paling sering terjadi adalah memasang sistem grounding tanpa melakukan pengujian resistivitas tanah terlebih dahulu.
🔹 Dampak:
- Desain tidak sesuai kondisi tanah.
- Nilai tahanan tanah terlalu tinggi.
- Sistem gagal berfungsi dengan baik saat terjadi gangguan.
🔹 Solusi:
Lakukan pengujian tanah (Soil Resistivity Test) dengan metode Wenner 4-Point untuk menentukan desain dan jumlah elektroda yang tepat sebelum pemasangan.
B. Menggunakan Material Tidak Standar
Beberapa instalator menggunakan material yang tidak memenuhi spesifikasi teknis, seperti:
- Batang besi biasa alih-alih copper rod.
- Kabel aluminium tanpa pelindung.
- Konektor yang mudah korosi.
🔹 Dampak:
- Cepat berkarat dan kehilangan konduktivitas.
- Menyebabkan resistansi tinggi.
- Umur sistem grounding menjadi pendek.
🔹 Solusi:
Gunakan material berstandar industri seperti:
✅ Copper-bonded rod (≥99% pure copper coating)
✅ Grounding cable tembaga murni
✅ Clamp atau konektor berbahan tembaga anti-korosi
C. Sambungan (Joint) Tidak Rapat atau Berkarat
Koneksi antar konduktor sering kali menjadi titik lemah dalam sistem grounding.
Sambungan yang longgar, tidak dilas dengan benar, atau berkarat dapat meningkatkan hambatan arus.
🔹 Dampak:
- Arus gangguan tidak tersalur sempurna.
- Terjadi percikan listrik (spark).
- Potensi bahaya kebakaran atau sengatan listrik meningkat.
🔹 Solusi:
Gunakan metode sambungan permanen seperti Exothermic Welding (Cadweld) atau Compression Connector untuk hasil yang kuat, stabil, dan tahan lama.
D. Pemasangan Elektroda yang Terlalu Dangkal
Elektroda yang ditanam terlalu dangkal (misal hanya 1 meter) tidak akan mendapatkan kelembapan tanah yang cukup, terutama di musim kering.
🔹 Dampak:
- Nilai tahanan tanah meningkat signifikan.
- Sistem tidak efektif dalam menyalurkan arus petir.
🔹 Solusi:
Tanam elektroda minimal 2,4 meter (8 kaki) dan pastikan berada di lapisan tanah yang lembap.
Jika resistansi tetap tinggi, gunakan multi-rod system atau chemical grounding.
E. Tidak Ada Sistem Equipotential Bonding
Beberapa sistem grounding hanya menyalurkan arus gangguan ke tanah tanpa menghubungkan peralatan logam lainnya (panel, pipa, struktur baja).
🔹 Dampak:
- Terjadi perbedaan potensial antar logam.
- Risiko sengatan listrik bagi operator meningkat.
🔹 Solusi:
Pastikan semua bagian logam yang terhubung ke sistem listrik dibonding ke busbar utama grounding (Main Earth Bar) untuk menyamakan potensial listrik.
F. Tidak Mengintegrasikan Grounding dengan Sistem Proteksi Petir
Sistem penangkal petir (LPS) sering kali dipasang secara terpisah tanpa integrasi dengan grounding listrik bangunan.
🔹 Dampak:
- Arus petir tidak terdistribusi dengan aman.
- Dapat menimbulkan back-flash ke sistem listrik.
🔹 Solusi:
Integrasikan LPS dan grounding listrik ke satu sistem pembumian utama agar arus petir terdistribusi merata ke tanah.
G. Tidak Melakukan Pengujian Setelah Instalasi
Banyak proyek selesai tanpa pengujian nilai tahanan tanah akhir (Final Earth Resistance Test).
Padahal, pengujian ini wajib dilakukan untuk memastikan sistem bekerja sesuai desain.
🔹 Dampak:
- Tidak diketahui apakah sistem efektif.
- Nilai tahanan mungkin melebihi standar tanpa disadari.
🔹 Solusi:
Selalu lakukan uji tahanan tanah menggunakan alat Earth Tester (Megger) dan dokumentasikan hasilnya sebagai laporan akhir proyek.
H. Tidak Ada Perawatan dan Pemeriksaan Berkala
Setelah instalasi, sistem grounding sering diabaikan. Padahal korosi, sambungan longgar, dan perubahan kondisi tanah dapat menurunkan performa sistem.
🔹 Dampak:
- Nilai tahanan tanah naik dari waktu ke waktu.
- Proteksi sistem berkurang secara signifikan.
🔹 Solusi:
Lakukan inspeksi dan pengujian tahunan, terutama sebelum musim hujan, untuk memastikan grounding tetap dalam kondisi optimal.
Tips dari Celebesteknik.com untuk Instalasi Grounding yang Benar
✅ Lakukan pengujian tanah sebelum desain.
✅ Gunakan material berstandar SNI dan IEC.
✅ Terapkan metode sambungan exothermic welding.
✅ Pastikan bonding antar struktur logam.
✅ Lakukan pengujian akhir dan perawatan berkala.
Dengan penerapan langkah-langkah tersebut, sistem grounding akan berfungsi dengan efisien, aman, dan memiliki umur panjang.
⚙️ Ingin memastikan sistem grounding Anda sudah terpasang dengan benar?
Celebesteknik.com menyediakan layanan audit, inspeksi, dan pengujian sistem grounding untuk memastikan keamanan maksimal.
Panduan Lengkap Sistem Grounding Profesional Memberikan pemahaman menyeluruh tentang sistem grounding dari dasar hingga implementasi. Baca juga :
- Apa Itu Sistem Grounding dan Mengapa Penting untuk Keselamatan Listrik?
- Komponen Utama dalam Sistem Grounding (Electrode, Conductor, Busbar, Chemical Grounding, dll)
- Jenis-Jenis Sistem Grounding: TN, TT, IT, dan Aplikasinya
- Standar Nasional & Internasional Sistem Grounding (SNI, IEEE, NEC)
- Prinsip Dasar Desain Sistem Grounding yang Efektif
- Faktor yang Mempengaruhi Nilai Tahanan Tanah
- Kesalahan Umum dalam Instalasi Grounding dan Cara Menghindarinya