Sabtu, 26 November 2016

PLTS Terbesar di Pulau Sulawesi hadir di Gorontalo Utara

Kabupaten Gorontalo Utara kembali memiliki tambahan sebuah ikon baru yang dapat dibanggakan selain keindahan ekowisata pulau Saronde serta produk hasil agribisnis lainnya. Hal ini ditandai dengan hadirnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terbesar yang dioperasikan di pulau Sulawesi. PLTS Sumalata dengan kapasitas terpasang 2 Mega Watt-peak (MWp) ini berlokasi di desa Motihelumo, kecamatan Sumalata Timur, kabupaten Gorontalo Utara. Kehadiran PLTS terbesar ini akan semakin membuat daerah yang berada di pesisir utara propinsi Gorontalo menjadi percontohan sebagai salah satu daerah penghasil energi listrik yang memanfaatkan sumber energi baru terbarukan (Renewable Energy).
PLTS Indonesia
PLTS Sumalata 2MWp
PLTS dengan skema Independent Power Producer (IPP) ini adalah PLTS IPP kedua yang resmi beroperasi, setelah sebelumnya PLTS berkapasitas 5 MWp di Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang diresmikan beberapa waktu lalu. PLTS Sumalata 2 MWp ini merupakan bagian dari Program Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

GM PLN Suluttenggo, Baringin Nababan menyebutkan bahwa Program Pemerintah untuk pemanfaatan energi terbarukan seperti melalui pembangunan PLTS terus ditingkatkan, baik yang dilakukan oleh PLN maupun pihak ke 3 (Independent Power Producer / IPP).

“Penggunaan energi matahari sebagai sumber penghasil listrik melalui PLTS di wilayah kerja PLN Suluttenggo yang meliputi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo saat ini baru mencapai hampir 1 MWp. Dengan hadirnya PLTS IPP Sumalata 2 MWp ini, maka ini menunjukkan bahwa upaya pemerintah untuk mendorong penggunaan energi terbarukan tidak hanya menjadi tanggung jawab PLN saja, tapi turut didukung oleh pihak investor yang memiliki komitmen yang sama, yaitu membangun infrastruktur ketenagalistrikan dengan menggunakan energi terbarukan” jelas Baringin Nababan, GM PLN Suluttenggo.

PLTS dibangun selama 8 bulan, terhitung sejak April 2015 hingga Desember 2015 oleh PT Brantas Adya Surya Energi (BASE), anak usaha dari PT Brantas Energi, bagian dari PT Brantas Adipraya (Persero). Kehadiran PT Brantas Adya Surya Energi ini merupakan perwujudan sinergi BUMN dengan PT PLN (Persero) dalam membangun infrastruktur ketenagalistrikan di Indonesia.

Listrik yang dihasilkan oleh PLTS Sumalata ini tersambung langsung (On Grid) dengan jaringan 20 kV pada sistem distribusi PLN Area Gorontalo. Puncak tertinggi daya listrik (Peak Load) yang dihasilkan oleh PLTS ini adalah selama 3 jam, yaitu antara pukul 11.00 – 13.00 dengan beban bisa mencapai 2.049 kiloWatt-peak (kWp).

Direktur PT Brantas Adya Surya Energi, Pramono, saat acara peresmian PLTS Sumalata yang turut dihadiri oleh GM PLN Suluttenggo, Baringin Nababan, Manajer PLN Area Gorontalo, Putu Eka Astawa, Perwakilan Pemda Kabupaten Gorontalo Utara serta masyarakat yang berada di sekitar lokasi PLTS menyampaikan bahwa pihaknya menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan dari masyarakat dan pemerintahan setempat sehingga proses pembangunan PLTS yang 40% komponen panel surya yang digunakan adalah komponen lokal, dapat berjalan dengan baik.

“Terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat dan pemerintahan setempat yang telah mendukung kami sepenuhnya dalam menyelesaikan pembangunan PLTS. PLTS Sumalata ini dibangun di atas lahan 5 hektar, dimana 3,5 hektar nya digunakan untuk kebutuhan penempatan 8.600 panel surya yang 40% komponennya adalah komponen lokal. Ini sejalan dengan upaya untuk mengoptimalkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di infrastruktur ketenagalistrikan” sebut Pramono, Direktur PT Brantas Adya Surya Energi.

Sementara itu, Bupati Gorontalo Utara, Indra Yasin, melalui Asisten I Bidang Administrasi dan Pelayanan Publik, Mohammad Enggowa mengajak masyarakat di sekitar lokasi PLTS untuk bersama-sama menjaga keberadaan PLTS karena merupakan obyek vital yang perlu diamankan demi kepentingan bersama.

“Listrik merupakan kebutuhan kita bersama, seluruh masyarakat. Oleh karenanya, Pemerintah mengajak seluruh warga untuk bersama-sama menjaga dan mendukung keberadaan PLTS Sumalata ini. Kita patut berbangga bahwa di daerah Gorontalo Utara memiliki PLTS terbesar di pulau Sulawesi yang juga menggunakan tenaga kerja lokal didalamnya. Keberadaan PLTS ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan di Gorontalo” ajak Mohammad Enggowa, mewakili Bupati Gorontalo Utara.

Secara nasional, hingga Maret ini, kapasitas PLTS yang dioperasikan PLN diseluruh Indonesia mencapai 9 MWp dan pihak swasta (IPP) 7 MWp, sehingga total kapasitas PLTS saat ini mencapai 16 MWp. Hal ini perlu terus untuk ditingkatkan dan membutuhkan dukungan semua Stakeholder ketenagalistrikan.

Baca selanjutanya »

Sabtu, 19 November 2016

Mega Proyek Listrik 35000 MW Butuh Gardu Induk

Selain dibutuhkan jaringan transmisi juga dibutuhkan pembangunan gardu induk untuk mendukung mega proyek 35000 MW. Hal tersebut tertuang dalam dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2016-2025.


Berdasarkan data pusat Komunikasi Publik, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), disampaikan bahwa di dalam RUPTL di jelaskan tentang kebutuhan pembangunan gardu induk 35000 MW.

Hingga tahun 2025 dibutuhkan pengembangan gardu induk berkapasitas total 172.136 MVA. Berapa kapasitas gardu induk yang harus terpasang hingga 2019 adalah sebesar 113.666 MVA

Seperti diketahui, gardu induk merupakan bagian yang tak terpisahkan dari saluran transmisi distribusi listrik. Dimana suatu sistem tenaga yang dipusatkan pada suatu tempat berisi saluran transmisi dan distribusi, perlengkapan hubung bagi, transformator dan peralatan pengaman serta peralatan kontrol.

Pada sistem tenaga listrik Jawa Bali tahun 2010, jumlah gardu induk sebanyak 435 dengan 24 gardu induk tegangan ekstra tinggi (GITET) 500 kV, 310 GI 150 kV, 101 GI 70 kV.

Menurut PLN, fungsi utama dari gardu induk adalah untuk mengatur aliran daya listrik dari saluran transmisi ke saluran transmisi lainnya yang kemudian didistribusikan ke konsumen selain sebagai tempat kontrol sebagai pengaman operasi sistem, juga sebagai tempat untuk menurunkan tegangan transmisi menjadi tegangan distribusi.

Jika dilihat dari segi manfaat dan kegunaan dari gardu induk itu sendiri, maka peralatan dan komponen dari gardu induk harus memiliki keandalan yang tinggi serta kualitas yang tidak diragukan lagi, atau dapat dikatakan harus optimal dalam kinerjanya sehingga masyarakat sebagai konsumen tidak merasa dirugikan oleh kinerjanya.

Oleh karena itu, sesuatu yang berhubungan dengan rekonstruksi pembangunan gardu induk harus memiliki syarat-syarat yang berlaku dan pembangunan gardu induk harus diperhatikan besarnya beban.

Baca selanjutanya »

Malea Energy Kembangkan PLTA Tana Toraja

Mengantisipasi mulai menipisnya cadangan energi berbasis fosil, sejumlah pihak mulai mengembangkan Energi Baru Terbarukan (EBT). Salah satu komponen usaha bisnis yang berkomitmen pengembangan EBT adalah adalah Kalla Group. Jaringan bisnis ini banyak bergerak di sektor,pembangkit listrik EBT. Meski investasi yang tinggi, Pembangkit listrik yang dibangun grup bisnis yang dirintis Haji Kalla ini terus ekspansi ke seluruh Indonesia.


Tak tanggung-tanggung, Kalla Group tengah menggarap 4 lokasi proyek PLTA yang kapasitasnya direncanakan sampai 1.535 megawatt (MW). Tiga proyek PLTA berada di Pulau Sulawesi yakni Poso sebesar 655 MW, Toraja 180 MW, dan Mamuju 450 MW. Sisanya ada di Kerinci Provinsi Jambi dengan kapasitas 250 MW.

Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) adalah pembangkit yang mengandalkan energi potensial dan kinetik dari air untuk menghasilkan energi listrik. Energi listrik yang dibangkitkan ini biasa disebut sebagai hidroelektrik.

Managing Director PT Malea Energy, Afifuddin Kalla menyatakan komitmen untuk merealisasikan proyek Jokowi dalam mensukseskan 35.000 MW. Salah satu langkah yang dibuatnya adalah melakukan kerjasama dengan PT Toshiba Asia Pacific Indonesia (TAPI).

"Kami berkomitmen untuk terus mensukseskan program Pak Jokowi. Salah satunya kerja sama dengan Toshiba nantinya untuk perlengkapan pendukung dalam membangun PLTA Malea 2 x 45 megawatt di Tana Toraja, Sulawesi Selatan agar bisa lancar," kata Afif kepada sejumlah media.

Ia meyakini bahwa kontraknya tiga tahun dengan Toshiba nantinya akan berjalan lancar dan menyukseskan salah satu program pemerintahan Jokowi.

"Toshiba sudah terbukti handal di beberapa PLTA di Indonesia. Kedepannya akan mau pemesanan spare part dan lainnua juga sudah mudah karena adanya kerjasama ini," tutur Afif yang kini menjabat sebagai Ketua BPC HIPMI Jakarta Timur ini.

Afif yang juga Calon Ketua Umum HIPMI Jaya ini meminta bahwa pemerintah harus terus menjaga iklim investasi dalam program 35.000 MWkarena memberikan dampak besar bagi perekonomian negara. Ia meminta Perusahaan Listrik Negara (PLN) harus profesional terlebih lagi jika menyangkut dengan iklim investasi di sektor listrik di negeri ini.

"Bisa dibayangkan jika perekonomian Indonesia berkembang pesat, namun kebutuhan listrik tidak memadai. Kami harap PLN bisa terus konsisten profesional karena hasil dari pekerjaan ini sangat dibutuhkan rakyat secepatnya," tandasnya.

Kerjasama yang pertama kali dilakukan Toshiba dengan pengembang swasta ini dihadiri oleh Presiden Direktur PT. Toshiba Asia Pacific Indonesia (TAPI) dari Jepang, Sinpei Yamagishi.

Link Source : http://www.indopetronews.com/2016/10/malea-energy-gandeng-toshiba-kembangkan.html
Baca selanjutanya »

Jumat, 21 Oktober 2016

Saatnya Kembangkan PLTB di Indonesia

Salah satu energi alternatif untuk menghasilkan listrik adalah energi angin. Secara sederhana angin didefinisikan sebagai udara yang bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah atau dari suhu udara rendah ke suhu udara tinggi, yang terjadi akibat pemanasan matahari terhadap atmosfir dan permukaan bumi. 
Pembangkit Listrik Energi Terbarukan
Wind Energy
Angin merupakan salah satu bentuk energi yang tersedia di alam yang diperoleh melalui konversi energi kinetik. Energi dari angin diubah menjadi energi kinetik atau energi listrik. Energi angin dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pengurangan emisi karena tidak dihasilkan emisi CO2 selama produksi energi listrik oleh kincir angin.

Cara kerja pembangkit tenaga angin yang dikenal sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) cukup sederhana. Energi angin yang memutar kincir diteruskan untuk memutar baling-baling pada generator di bagian belakang kincir angin, sehingga menghasilkan energi listrik.

Pemanfaatan angin sebagai energi terbarukan pada tahun 2009 telah menghasilkan energi listrik sebesar 159 GW atau setara 2% konsumsi listrik dunia (World Wind Energy Association Report/WWEA 2010). Angka tersebut diharapkan akan meningkat menjadi 200 GW pada tahun 2010.  Amerika, China, Jerman dan Spanyol merupakan negara paling besar yang memanfaatkan energi angin, baik onshore maupun offshore.

Kapasitas energi listrik yang di hasilkan dari satu kincir angin dengan baling-baling berdiameter 127 meter di Belanda yang berada di offshore mencapai sekitar 6 MW (ECN, Factsheet Wind Energy). Saat ini sedang dikembangkan baling-baling dengan diameter 150 meter yang diharapkan dapat membangkitkan listrik dengan kapasitas sekitar 10 MW.

Indonesia yang memiliki pantai sepanjang 80.791,42 km merupakan wilayah potensial untuk pengembangan PLTB. Kecepatan angin di Indonesia secara umum antara 4 m/detik hingga 5 m/detik. Namun di daerah-daerah tertentu seperti di pantai kecepatan anginnya dapat mencapai 10 m/detik. Dengan kecepatan tersebut, pembangunan pembangkit listrik tenaga angin masih kurang ekonomis. Namun, jika dibangun dengan ketinggian tertentu dan diameter baling-baling yang besar dapat dihasilkan energi listrik dengan potensi kapasitas 10-100 kW.

Pada tahun 2009, kapasitas terpasang dalam sistem konversi energi angin di seluruh Indonesia mencapai 1,4 MW (WWEA 2010) yang tersebar di Pulau Selayar (Sulawesi Utara), Nusa Penida (Bali), Yogyakarta, dan Bangka Belitung. Melihat potensi wilayah pantai yang cukup luas, pemanfaatan tenaga angin sebagai sumber energi terbarukan di Indonesia sangat mungkin untuk dikembangkan lebih lanjut.

Penulis: 
Eko S. Baruna
Pusat Data dan Informasi ESDM

Baca selanjutanya »

Senin, 26 September 2016

Dalam Lima Tahun Pertamina Akan Siapkan PLTS 1000 MW

Dalam rangka mendukung Program Indonesia Terang yang digagas Pemerintah, PT Pertamina (Persero) berkomitmen untuk membantu menerangi wilayah-wilayah Indonesia yang masih rendah rasio elektrifikasinya dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 1.000 mega watt (MW). Komitmen Pertamina tersebut diutarakan Menteri ESDM, Sudirman Said dalam konferensi pers usai Pertemuan Pemimpin EBTKE, di Bandung, Sabtu (5/3).

"Komitmen Pertamina ini akan sangat membantu untuk memperkuat usaha-usaha untuk membangun energi baru terbarukan di wilayah-wilayah Indonesia, khususnya di wilayah Indonesia Timur yang masih banyak belum terlistriki dan terisolir," ujar Sudirman.

Dalam waktu dekat, Pertamina juga akan menandatangani perjanjian kerjasama dengan PT PLN (Persero) untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 50 MW di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

“Kerja sama ini suatu terobosan besar karena 50 MW adalah cukup besar sekali dan saya kira lahannya sudah disiapkan. Pertamina siap investasi dan PLN membeli. Apabila nanti ada gap kita akan turun tangan meyakinkan program ini berjalan,” lanjut Sudirman.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Sucipto membenarkan bahwa Pertamina akan membangun PLTS sebesar 50 MW di Mandalika. “Pertamina telah sepakat mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas 50 MW di Mandalika, Lombok Nusa Tenggara,” ujar Dwi.

Dwi menambahkan, saat ini Pertamina diidentikan dengan perusahaan yang bergerak dibidang minyak dan gas bumi dan untuk jangka panjang tidak akan bisa dipertahankan. Masa depan energi bukanlah minyak dan gas bumi melainkan energi baru terbarukan, karena itu Pertamina akan serius mengembangkan energi baru terbarukan.

“Pertamina siap untuk mengembangkan program 1.000 MW berbasis energi baru terbarukan dalam lima tahun kedepan dan ini diperkirakan total kps-nya sekitar USD 2 milyar,” tambah Dwi.

Selain itu, Pertamina juga akan bekerjasama dengan PT EMI untuk melakukan audit energi dan hasil audit energi ini akan menjadi baseline program konservasi Pertamina kedepan dalam mengelola energi lebih efisien.

Source Link : http://www.esdm.go.id/berita/energi-baru-dan-terbarukan/323-energi-baru-dan-terbarukan/8223-dalam-lima-tahun-pertamina-akan-siapkan-plts-1000-mw.html
Baca selanjutanya »