Senin, 26 September 2016

Dalam Lima Tahun Pertamina Akan Siapkan PLTS 1000 MW

Dalam rangka mendukung Program Indonesia Terang yang digagas Pemerintah, PT Pertamina (Persero) berkomitmen untuk membantu menerangi wilayah-wilayah Indonesia yang masih rendah rasio elektrifikasinya dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 1.000 mega watt (MW). Komitmen Pertamina tersebut diutarakan Menteri ESDM, Sudirman Said dalam konferensi pers usai Pertemuan Pemimpin EBTKE, di Bandung, Sabtu (5/3).

"Komitmen Pertamina ini akan sangat membantu untuk memperkuat usaha-usaha untuk membangun energi baru terbarukan di wilayah-wilayah Indonesia, khususnya di wilayah Indonesia Timur yang masih banyak belum terlistriki dan terisolir," ujar Sudirman.

Dalam waktu dekat, Pertamina juga akan menandatangani perjanjian kerjasama dengan PT PLN (Persero) untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 50 MW di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

“Kerja sama ini suatu terobosan besar karena 50 MW adalah cukup besar sekali dan saya kira lahannya sudah disiapkan. Pertamina siap investasi dan PLN membeli. Apabila nanti ada gap kita akan turun tangan meyakinkan program ini berjalan,” lanjut Sudirman.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Sucipto membenarkan bahwa Pertamina akan membangun PLTS sebesar 50 MW di Mandalika. “Pertamina telah sepakat mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas 50 MW di Mandalika, Lombok Nusa Tenggara,” ujar Dwi.

Dwi menambahkan, saat ini Pertamina diidentikan dengan perusahaan yang bergerak dibidang minyak dan gas bumi dan untuk jangka panjang tidak akan bisa dipertahankan. Masa depan energi bukanlah minyak dan gas bumi melainkan energi baru terbarukan, karena itu Pertamina akan serius mengembangkan energi baru terbarukan.

“Pertamina siap untuk mengembangkan program 1.000 MW berbasis energi baru terbarukan dalam lima tahun kedepan dan ini diperkirakan total kps-nya sekitar USD 2 milyar,” tambah Dwi.

Selain itu, Pertamina juga akan bekerjasama dengan PT EMI untuk melakukan audit energi dan hasil audit energi ini akan menjadi baseline program konservasi Pertamina kedepan dalam mengelola energi lebih efisien.

Source Link : http://www.esdm.go.id/berita/energi-baru-dan-terbarukan/323-energi-baru-dan-terbarukan/8223-dalam-lima-tahun-pertamina-akan-siapkan-plts-1000-mw.html
Baca selanjutnya »

Minggu, 04 September 2016

Bosowa Energi Bangun PLTU Jeneponto Tahap II

PT Bosowa Energi kembali memulai konstruksi atau peletakanna batu pertama (groundbreaking) Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas 2x125 MW di Jeneponto, Sulawesi Selatan.


Proyek Bosowa ini merupakan infrastruktur energi pertama yang terealisasi di era Kabinet Presiden Jokowi. Peletakan batu pertama dan pemancangan tiang proyek tersebut dilakukan secara simbolis, hari ini di lokasi PLTU Jeneponto.

Acara tersebut dilakukan oleh Menko Kemaritiman Indroyono Soesilo, Menteri ESDM Sudirman Said, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, CEO Bosowa Erwin Aksa, dan Founder Bosowa HM Aksa Mahmud, serta Dewi Kam, pemilik PT Sumberenergi Sakti Prima (SSP) sebagai mitra bisnis Bosowa.

Di lokasi PLTU Jeneponto, Desa Punagaya, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto, telah berdiri pembangkit yang berkontribusi menyediakan kebutuhan listrik Sulawesi Selatan dengan kapasitas 2x125 MW. Proyek pertama Bosowa di sektor kelistrikan ini dibangun dan mulai dioperasikan penuh oleh Bosowa Energi dua tahun lalu setelah diresmikan Menteri ESDM Jero Wacik pada 19 Desember 2012.

Pembangunan proyek PLTU Jeneponto tahap I tersebut mencatat prestasi tersendiri karena pembangunan konstruksi dapat diselesaikan hanya dalam waktu 18 bulan dari rencana 30 bulan. Maka, terjadi efisiensi cukup signifikan. Diharapkan prestasi itu bisa dipertahankan dalam pembangunan proyek ekspansi ini.

Kebutuhan listrik Sulsel dan Sulawesi Barat terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi yang tinggi di atas rata-rata nasional, membuat Bosowa Energi memacu pembangunan pembangkit tersebut. Bosowa menyadari karena merupakan pengalaman dalam membangun pabrik semen, industri dan perekonomian hanya akan tumbuh tinggi kalau tersedia listrik yang cukup.

"Karena itu, kami memacu proyek ini agar pertumbuhan perekonomian Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat sebagai bagian perekonomian nasional tidak terhambat," ujar Erwin Aksa.

Erwin menambahkan, proyek ekspansi PLTU Jeneponto yang dibangun ini dirancang berkapasitas 2x135 MW (gross capacity) atau 2x125 (net capacity). Spesifikasi peralatan yang digunakan semua menunjang untuk memenuhi kapasitas tersebut. Nilai proyek (turn key) sebesar Rp3 triliun.

Bosowa membangun PLTU ini melalui anak usahanya, PT Bosowa Energi perusahaan patungan dengan PT Sumberenergi Sakti Prima (SSP) yang telah berpengalaman dalam pengembangan PLTU.

Pemasangan struktur pertama PLTU Jeneponto ekspansi 2×135 megawatt (MW) akan rampung dan mulai beroperasi di awal Tahun 2018. "Target penyelesaian kita harapkan akhir 2017 sudah bisa beroperasi untuk unit satu," kata President Director PT Bosowa Energi Erwin Aksa usai pemancangan struktur pertama, di PLTU Jeneponto, Desa Punagaya, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto.

Pemasangan strukutur pertama tersebut merupakan pembangunan struktur besi baja yang merupakan pondasi besi-besi yang akan datang dalam waktu dekat. "Ini merupakan pencapaian yang sangat penting karena setelah ini, besi-besi dari pabrik ini akan segera berdatangan," ujar Erwin.

Proyek pemasangan struktur juga dihadiri President Direksi Dewi Kam, Rizal Yasin, Bupati Jeneponto Iksan Iskandar, dan President Director ZTPC Mr Yu Chengli.

Baca selanjutnya »

PLTB Sidrap 70MW Siap dibangun

Letter of Cooperation (LoC) pembiayaan proyek pembangkit listrik tenaga angin (PLT Bayu) Sidrap. Penandatanganan disaksikan oleh Direktur Jenderal Ketenagalistrikan (Dirjen Gatrik) Jarman beserta Direktur Utama PLN Sofyan Basir dan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Robert Blake.
Penandatanganan Power Purchase Agreement (PPA)
Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) di Sulawesi Selatan akan menjadi lokasi bagi wind farm dengan pembangkit listrik dengan kapasitas terbesar di Indonesia, yakni 70 megawatt (MW). “Kita baru saja menyaksikan penandatanganan dari pembiayaan proyek energi terbarukan skala besar. Ini menjadi penanda bahwa energi terbarukan memegang peranan penting dalam sektor energi di Indonesia,” ujar Jarman dalam sambutannya.

Proyek pembangkit listrik di Sidrap ini, menurut Jarman, akan mendukung pencapaian target 25 persen energi baru terbarukan dalam bauran energi Indonesia di tahun 2025 dan membantu pengurangan emisi sebesar 29 persen di 2030. “Kami berharap di tahun 2025 kita dapat mencapai apa yang telah menjadi komitmen kita bersama dan semoga dalam dua tahun ke depan, energi hijau ini akan dapat dioperasikan,” kata Jarman.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur PT UPC Sidrap Bayu Energi Brian Caffyn mengatakan proyek PLTB Sidrap ini akan menjadi yang pertama skala utilitas proyek peternakan angin di Indonesia. “UPC bangga bisa membawa bentuk pembangkit listrik baru untuk Indonesia dengan harga yang terjangkau dan berharap untuk dapat mereplikasi keberhasilan ini dalam proyek-proyek sejenis lainnya dan memberikan energi terbarukan biaya rendah untuk kepentingan PLN dan masyarakat Indonesia,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Pengadaan PLN Supangkat Iwan Santoso mengatakan bahwa pembangunan pembangkit tenaga angin ini merupakan wujud keseriusan PLN mendukung kebijakan pemerintah dalam pengembangan energi baru terbarukan. “Nantinya, listrik yang dihasilkan akan dipasok untuk memenuhi kebutuhan listrik PLN di Sidrap dan sekitarnya,” kata Supangkat Iwan.

PLTB ini dikembangkan oleh Independent Power Producer (IPP) Internasional UPC Renewables Indonesia bekerja sama dengan PT Binatek Energi Terbarukan. Dengan ditandatanganinya letter of cooperation ini, maka pembangunan proyek ini akan dimulai pada April 2016 dan beroperasi pada 2017.

Setelah PLTB Samas 50 MW di Yogyakarta, PLTB Sidrap merupakan pembangkit listrik tenaga angin skala besar berikutnya yang dibangun di Indonesia. Pembangunannya sudah dimulai tahun 2015 dengan tahap pembebasan lahan, dan dilanjutkan pengadaan seluruh alat-alat. Proyek ini akan menyediakan hingga 150 pekerjaan konstruksi. Rencananya, PLTB ini akan menggunakan sebanyak 30 turbin kincir angin akan terbangun pada sejumlah titik di wilayah seluas 1 hektar lebih itu yang masing-masing menghasilkan 2,5 MW.

Sebelumnya, penandatanganan Power Purchase Agreement (PPA) atau komitmen pembelian tenaga listrik dari pembangkit jenis energi baru dan terbarukan dengan UPC Renewables Indonesia telah ditandatangani pada 18 Agustus 2015 lalu di Jakarta.

Sumber : Siaran Pers PLN
Baca selanjutnya »

Jumat, 01 Juli 2016

Kesempatan Bagi Pengusaha Nasional Lebih Besar Pada Proyek 35.000 MW

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo meminta kepada Menteri ESDM sebagai regulator, PLN dan Kementerian BUMN untuk memberikan kesempatan sebanyak mungkin, sebesar mungkin peluang kepada pengusaha lokal atau pengusaha nasional dalam proyek percepatan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan 35.000 MW. Demikian diungkapkan Sekretaris Kabinet Pramono Anung usai Rapat Kabinet Terbatas di Istana Negara Jakarta.

Kesempatan Bagi Pengusaha Nasional Lebih Besar
Pada Proyek 35.000 MW
Presiden juga mengingatkan agar proyek-proyek infrastruktur ketenagalistrikan 35.000 MW banyak dilaksanakan perusahaan-perusahaan luar. “Jangan kemudian yang berperan adalah pemain-pemain besar dari luar,” tambah Pramono.

Selain meminta memberikan peluang kepada pengusaha lokal pada proyek pembangkit 35.000 MW, presiden juga meminta kepada Kementerian ESDM selaku regulator, dan juga kepada Menteri BUMN serta PLN untuk menggalakkan, mengembangkan pembangkit listrik mikro hidro (PLTMH) atau juga power hidro karena PLTMH ini dianggap dapat memberikan kesempatan lapangan kerja yang luas bagi masyarakat terutama daerah-daerah yang memungkinkan power hidro atau mikro hidronya dikembangkan.

Proyek Kelistrikan 35.000 MW merupakan proyek pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan yang dilaksanakan guna mewujudkan kemandirian ekonomi dan meningkatkan rasio elektrifikasi. Proyek 35.000 MW tidak hanya bergerak pada proyek pembangunan pembangkit, namun juga pada transmisi dan gardu induk.

Baca selanjutnya »

Jumat, 18 Desember 2015

Waspadai Korsleting Listrik Saat Musim Hujan

Banyaknya kasus kebakaran yang terjadi akibat korsleting listrik, baik didalam maupun diluar bangunan. Saat musim hujan berlangsung resiko terjadinya hubungan arus pendek listrik (korsleting) dapat memicu kebakaran dan korban jiwa. Hal yang dapat memicu terjadinya korsleting listrik salah satu diantaranya adalah penyambungan atau pemanfaat listrik secara ilegal tanpa prosedur yang aman. 
Waspadai korsleting listrik pada peralatan dan instalasi listrik saat musim hujan
Selain itu, waspadai korsleting listrik dengan melakukan pengecekan terhadap peralatan dan instalasi listrik secara visual, periksa jika ada kebocoran atap rumah atau tempat kerja yang menyebabkan air masuk kedalam dan berpotensi mengenai instalasi listrik maupun peralatan listrik.
Baca selanjutnya »